Monday, June 26, 2006

Tak Ada Yang Tak Pasti

“Misalkan ada kecerdasan yang pada suatu saat mengetahui semua gaya yang menggerakkan alam dan juga letak sesaat semua benda yang menyusun Semesta. Semua ini sudah cukup untuk melakukan perhitungan berdasarkan semua data tadi. Perhitungan ini menghasilkan rumusan yang sama bagi benda-benda raksasa di Semesta dan atom-atom terkecil. Tak ada lagi yang tak pasti. Baik masa depan maupun masa lalu akan terbuka.”

Pierre Laplace (1749-1827)

Matematikawan & Astronom

Tuesday, June 20, 2006

Jatuh nila setitik, rusak susu sebelanga

Sialan…! Bayangkan : kau telah belajar untuk test fisika, banting otak melaluinya, mendapatkan nilai yang bagus, lalu tiba-tiba nilai itu dikurangi 10 dan aku harus mengikuti test ulang. Jengkel pastinya..!

Semua ini ternyata karena soal-soal tes fisika sempat bocor. Loh. Padahal aku sama sekali enggak melihat soal bocoran itu. Selama test itu berlangsung, semua soal aku pikir sendiri. Enggak ada istilah nyontek.

Bocornya soal itu adalah suatu kebodohan. Test ini kan dilakukan serentak. Kalau begitu para murid pemalas itu mendapatkannya dari mana? Menurut gosip, hal ini dilakukan oleh kecerobohan seorang guru. Otakku keruh. Marah! Lalu bagaimana dengan hasil yang telah kuraih? Belajar semalaman itu! Rasanya tidak dihargai sama sekali.
Semua hal ini bagaikan menghina semua murid yang telah bersusah payah belajar untuk menghadapi test, menurutku.

Jatuh nila setitik, rusak susu sebelanga. Hey, orang yang menjatuhkan nila tersebut patut dihajar!

Mencontek & Pengawas

Lembar jawaban test sudah terisi semua. Benar atau tidak, itu hasil terbaik yang bisa kuberikan. Ahh.. capek. Masih ada waktu tersisa. Yah, karena misi sudah selesai, aku melirik kesekitar. Mataku sudah muak melihat soal-soal njelimet itu.

Tenang tapi menghanyutkan. Sekilas kelas itu sunyi, tapi aku bisa melihatnya. Bisik-bisik tanpa suara, gerakan kode tangan, koordinasi antar peserta, dan semacamnya. Sudah jelas apa itu : mencontek.

Rasanya aneh! Memang, acara contek-mencontek itu dilakukan secara sembunyi-sembunyi, tapi masa’ sih para pengawas test itu nggak bisa melihatnya. Sebetulnya kalau niat pasti kelihatan. Kalau aku yang jadi pengawas, mungkin aku bisa menangkap sekitar 2-3 pencontek (sesudah itu nggak akan ada yang berani!). Apalagi pake kamera atau video, tambah pas. Mereka nggak bakalan bisa mengelak.

Namun pertanyaannya, apakah para pengawas itu benar-benar tidak melihat mereka yang mencontek?

Friday, June 16, 2006

Arti Pemahaman

Guru Sufi:
Jika engkau berkata bahwa engkau hampir dapat memahami, maka engkau sebenarnya beromong kosong.


Fulan:
Dapatkah engkau memberikan persamaan ucapanmu itu?


Guru Sufi:
Tentu! ucapan itu sama dengan perkataan bahwa sesuatu itu hampir seperti apel.

Friday, June 09, 2006

Empat Perkara

Ja'far bin Muhammad Radhiyallahu Anhu berkata, "Aku heran pada orang yang diuji dengan empat perkara dan bagaimana justru ia mengabaikan empat perkara lainnya."

Pertama, aku heran pada orang yang diuji dengan kesedihan, mengapa ia tidak mengucapkan, "Tiada sesembahan selain Engkau. Engkau Maha Suci, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim."(Al Anbiyaa' : 87) Padahal Allah telah berfirman, "Maka Kami penuhi doanya dan Kami selamatkan dia dari kesedihan. Dan demikianlah Kami selamatkan orang-orang beriman."(Al Anbiyaa' :88)

Kedua, aku heran pada orang yang diuji dengan rasa takut, mengapa ia tidak mengucapkan, "Cukuplah Allah bagi kami dan Dia sebaik-baik pelindung."(Ali Imran : 173). Padahal Allah telah berfirman, "Lalu mereka kembali dengan nikmat dan karunia Allah, mereka tidak mendapat bencana apapun."(Ali Imran : 174)

Ketiga, aku heran pada orang yang terpedaya, mengapa ia tidak mengucapkan, "Dan aku pasrahkan urusanku kepada Allah."(Al Mu'min : 44). Padahal Allah telah berfirman, "Maka Allah memeliharanya dari kejahatan-kejahatan tipu daya mereka."(Al Mu'min : 45).

Keempat, aku heran pada orang yang menginginkan sesuatu, mengapa ia tidak mengucapkan, "Sungguh apa kehendak Allah semua ini terwujud. tiada kekuatan selain dengan pertolongan Allah"(Al Kahfi : 39). Padahal Allah telah berfirman, "Dan mengapa kamu tidak mengucapkan tatkala kamu memasuki kebunmu: Sungguh apa kehendak Allah semua ini terwujud. tiada kekuatan selain dengan pertolongan Allah."(Al Kahfi : 39).

Diambil dari :1001 Kisah Teladan oleh Hani Al-Haj

Friday, June 02, 2006

Dari sebuah senyum

Sabtu siang. Disebuah warnet dekat sekolah, aku sedang asyik-asyiknya surfing. Sejenak terlihat, ada anak kecil melihatku. Wajah anak itu lucu. Senyumku mengembang ramah. Anak itu ikut tersenyum. Dan entah bagaimana, beberapa saat sesudah itu, anak itu sudah bermain disampingku. Tertawa-tawa dan banyak mengoceh, aku hanya ngangguk dan mengiyakan saja (sambil senyum, tentunya!). Tapi anak itu terlihat sangat senang dan menikmati. Aneh! Baru beberapa menit yang lalu kita bertemu, tapi seakan-akan sudah sering bemain bersama. Sampai-sampai, dia harus ditarik oleh ibunya saat mau pulang. Subhanallah! Betapa bermanfaatnya tersenyum. Kata Rasullah saw. juga, senyum itu sedekah. Dengan tersenyum, kesan yang ditangkap oleh semua orang adalah baik. Mengakrabkan hubungan, menghibur hati. Bagiku, itu hampir seperti ajaib!

Thursday, June 01, 2006

Pendidikan di Indonesia enggak efektif!

Pemikiran ‘radikal’ ini sering sekali muncul dari otak saya. Setiap hari (kecuali minggu, hari besar & tanggalan merah) saya selalu dihadapkan dengan pendidikan ‘umum’ di sekolah. Tetapi, apakah semua ilmu ini akan berguna nanti? Apakah efektif? Di sekolah banyak sekali ilmu yang diajarkan: Matematika, Bhs. Indonesia, Bhs. Inggris, Fisika, Kimia, Biologi, Geografi, Sejarah, Kewarganegaraan, Seni, Olahraga, Ekonomi, Komputer, Sosiologi, dll. Di kelas 10 ada 14 mata pelajaran! Wow! Banyak yah? Tapi lebih nonsense daripada useful.

Ini fakta! Dari semua pelajaran yang seabreg itu, yang kemungkinannya bakal bermanfaat cuma sebagian kecil. Usefullness dari ilmu yang kita dapat itu bergantung pada profesi kita nanti. Biologi tak akan berarti apa-apa buat Sastrawan. Ekonomi itu bukan urusan Ilmuwan. Petani akan bilang masa bodoh soal Fisika. Desainer enggak akan ambil pusing tentang Kimia. Kira-kira seperti itulah.

Saya sendiri, yang dalam pandangan ini bercita-cita menjadi seorang IT manager, terus terang jengkel… Hey, siapa yang peduli bagaimana cara cacing buang air besar? (biologi). Terlalu banyak kesia-siaan.

Hal ini diperparah dari keterbatasan otak manusia itu sendiri. Setelah naik menjadi kelas 11, saya sadar, bahwa 90% dari yang saya telah pelajari sepanjang tahun (terutama hafalan non eksak) sudah saya lupakan. Saya memang bukan orang yang beringatan kuat, tapi teman-teman saya juga mengalami hal yang sama. Jadi, what’s the point? Waktu itu berharga!

Sementara saya yakin, semua orang juga sebenarnya tahu, otak orang itu berbeda-beda. Kemampuan seseorang itu berbeda-beda. Minat orang juga berbeda-beda. Tidak efektif, bila keberagaman itu dipaksakan dalam satu sistem yang homogen. Keinginan saya sebetulnya adalah, agar kita bisa memilih mata pelajaran apa yang akan kita pelajari. Katakanlah, selain mata pelajaran inti (Matematika, Bhs. Indonesia, Bhs Inggris, Komputer dasar) saya memilih Elektronika, Komputer advanced, dan Fisika. Maka saya bisa lebih terkonsentrasi dalam belajar dan mengejar cita-cita saya. Contoh lain, seseorang yang ingin menjadi arkeolog bisa memilih Sejarah, Geografi, Sosiologi. Sehingga lebih banyak ilmu yang akan bermanfaat baginya.

Mungkin ada orang yang bilang, “Kalau begitu semua orang akan memilih jalan profesi yang dia inginkan, tapi kan belum tentu dia mampu untuk itu!”. Kepala sekolahku juga pernah bilang semacam itu. Katanya, banyak anak ingin masuk ke IPA tapi tidak mampu. Ada benarnya, tapi menurut saya, minat dan ketekunan amatlah berkaitan.

Bila seseorang ‘terpaksa’ mempelajari sesuatu, maka dia juga akan mempelajarinya ogah-ogahan. Ilmu yang diserapnya juga seadanya saja. Dia hanya akan belajar kalau ada ulangan. Berbeda bila hal itu memang ilmu yang dia-damba-dambakan. Bahkan biarpun dia tidak mengerti pada awalnya, dia akan terus berusaha memahaminya, hingga akhirnya berhasil. Dia tak gampang menyerah. Sehingga kualitas SDMnya juga baik.

Radikal, ya, ini pemikiran radikal memang. Tapi semoga pak menteri pendidikan berikutnya lebih berpikir kesini. Kurikulum konvensional sekarang menjemukan. Ini pengakuan dari seseorang yang sedang menjalaninya!